Pesona Jemani

Pesona Jemani
Jemani indukan

Minggu, 16 Juni 2013

Potensi Peluang Bisnis Usaha Herbal Tawangmangu


Raja Ekstrak Herbal dari Tawangmangu



Marketing.co.id - Rasanya tidak berlebihan jika Javaplant disebut sebagai Raja Ekstrak Botani Indonesia. Pasalnya, perusahaan yang baru berumur 13 tahun ini sudah menguasai setengah dari pasar ekstrak herbal nasional. Seperti apa resep strateginya?
Berawal dari keinginan untuk memenuhi pasar herbal di Tanah Air, keluarga Rahardjo yang dikenal sebagai pemegang merek jamu kuat Pilkita tergelitik untuk masuk ke pasar ekstrak herbal. Tentu ada alasan kuat mereka tertarik dengan produk ini.
Jauh hari sebelumnya, BPOM pernah memberikan gagasan untuk memproduksi ekstrak herbal karena dinilai lebih terjamin dari segi mutu produk. Berangkat dari hal itu, Purwanto Rahardjo, Mulyo Rahardjo, dan Junius Rahardjo, memutuskan untuk mendirikan pabrik ekstrak herbal senilai Rp50 miliar  di Tawangmangu, Solo, bernama Javaplant.awal dari keinginan untuk memenuhi pasar herbal di Tanah Air, keluarga Rahardjo yang dikenal sebagai pemegang merek jamu kuat Pilkita tergelitik untuk masuk ke pasar ekstrak herbal. Tentu ada alasan kuat mereka tertarik dengan produk ini.
Perusahaan ini memproduksi aneka ekstrak herbal, lalu memasarkan produknya ke berbagai produsen jamu. Sayangnya, yang berminat pada produk Javaplant hanya sedikit.
Permintaan malah datang dari beberapa perusahaan multilevel marketing dan industri herbal rumahan, tetapi jumlahnya memang tidak terlalu besar. Lantaran pasar lokal dianggap belum bisa menerima produknya, Javaplant pun beralih membidik pasar luar negeri.
Namun, menembus pasar internasional tidak mudah. Butuh waktu tiga tahun bagi Javaplant untuk bisa menembus pasar ekspor. Tepatnya tahun 2006 menjadi milestone perusahaan ini untuk berkancah di pasar global. Saat itu, Javaplant mendapat pesanan dari sebuah perusahaan asal Amerika Serikat bernama Integrity Nutraceuthicals International (INI).
Perusahaan tersebut memesan ekstrak kayu manis dalam jumlah lumayan besar untuk keperluan uji klinis, yang hasilnya nanti akan dijual kembali ke berbagai peritel maupun perusahaan herbal di Amerika Serikat dan beberapa negara lain di seluruh dunia. Sampai sekarang, INI menjadi pelanggan terbesar Javaplant.
“Total ekspor kami ke sana mencapai 70–80 juta ton per tahun,” terang Junius Rahardjo, COO Javaplant. Setelah Amerika Serikat, setahun berikutnya Jepang berhasil ditembus. Produk yang dieskpor meliputi ekstrak tongkat ali (pasak bumi), green coffee, dan kunyit. Menyusul kemudian negara-negara seperti Korea, Australia, Malaysia, dan lain-lain.
Saat ini, 60% dari total produksi Javaplant diserap oleh Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Asia Tenggara, sisanya baru di pasar domestik.
Pada tahun 2008, perusahaan yang berada di bawah bendera PT Tri Prihardja ini membangun pabrik untuk memproduksi ekstrak tanaman yang sering menjadi bahan dasar makanan dan minuman, seperti daun teh, kopi, pandan, dan bunga matahari (chrysanthum).
Total investasi yang digelontorkan waktu itu sebesar Rp150 miliar. Saat ini, Javaplant mampu memproduksi 70 ton ekstrak non-herb&spice dalam sebulan.
Pelanggannya berdatangan dari berbagai negara. Di antaranya Oishi dan Ichitan dari Thailand, yang menyerap hingga 50% pasar ekspor non-herb&spice sekarang.
Junius menjelaskan, ide menggarap ekstrak bahan makanan dan minuman sudah tebersit sejak tahun 2007. Hanya saja baru bisa terwujud setelah tahun 2008.
Pemicunya sederhana sekali, saat ini banyak dari produk farmasi berbahan dasar herbal. Mulai dari suplemen untuk anak, obat, sampai makanan dan minuman seperti susu, dan minuman berenergi. “Ini peluang besar bagi kami untuk menyuplai mereka,” ujar dia.
Sejak berdiri 13 tahun lalu, Javaplant tidaklah bermain sendiri di bisnis ekstrak botani. Di sekelilingnya terdapat enam pemain yang cukup besar.
Bahkan ketika merintis usaha, Javaplant harus berhadapan dengan Haldin dan Indesso. Mereka adalah pemain lama di industri ini. Selain mereka, masih ada Jamu Borobudur, Fitakemindo, Natura, dan Indoplant.
Namun demikian, di antara pemain yang ada, Javaplant berhasil membuktikan diri sebagai peraih pangsa pasar terbesar untuk ekstraksi botani nasional. Keberhasilan ini diraih karena Javaplant agresif berpromosi.
Setiap ada pameran herbal, Javaplant dipastikan selalu ikut. Begitu pula bila customer visit ke berbagai perusahaan, jadwalnya selalu tepat waktu. Kemudian, ciri khas lain dari produsen ekstrak botani ini adalah selalu terbuka pada siapa pun yang ingin datang ke pabriknya di Tawangmangu.
Menurut Junius, pihaknya sering mengundang orang untuk memperlihatkan kualitas mesin produksi Javaplant sekaligus ingin meyakinkan mereka soal jaminan mutu bahan baku yang diolah di pabrik. Dari situ akan timbul rasa percaya yang kuat terhadap produk Javaplant.
Keunggulan Javaplant ini salah satunya terletak pada teknologi mesin produksi yang belum tentu dimiliki kompetitor, yakni mesin ekstraksi dengan percolation system yang dapat menghasilkan ekstrak botani lebih cepat.
Selain itu, bahan baku Javaplant diproduksi secara GMP sesuai CPOTB BPOM Indonesia dan National Sanitary Foundation USA, serta jenis produknya lebih beragam dan tentu saja sudah melewati penelitian terlebih dulu.
Produk teranyar dari Javaplant adalah ZirZak 26000, yang mengandung antioksidan tinggi dan dapat diaplikasikan ke dalam produk farmasi, nutraseutikal, kosmetik, makanan dan minuman dalam bentuk tablet, kaplet, kapsul, dan cair.
Lokasi pabriknya pun bukan asal pilih. Junius punya alasan dipilihnya Tawangmangu, yaitu lokasi ini merupakan tujuan rekreasi, dan diharapkan dari para wisatawan yang rekreasi ke sana tertarik untuk mampir ke fasilitas produksi Javaplant.
“Siapa tahu di antara mereka adalah pelaku industri, dan tertarik dengan produk kami seusai melihat-lihat,” ujarnya.
Javaplant juga menaruh perhatian pada segmen mahasiswa dan berusaha untuk selalu terbuka. Bagi Junius, mereka itu adalah aset dan calon pelanggan di masa depan. Dari sekarang mereka sudah tahu Javaplant, nantinya saat mereka sudah bekerja dan ada kebutuhan akan produk ekstrak, maka yang dipilih adalah Javaplant.
Meski tergolong perusahaan B to B, Javaplant cukup agresif bila beriklan di media. Terutama, di media yang terkait erat dengan industri. Kegiatan above the line ini, menurut Junius, cukup ampuh untuk menjaring pelanggan baru.
Selain itu, Javaplant juga berusaha mengedukasi pasar dengan rajin mengunggah video yang mengandung aspek komersial, sosial, sampai technical ke YouTube.
Tahun ini, Javaplant mematok pertumbuhan 13%–15%, naik dibanding tahun lalu yang sempat mencetak angka penjualan Rp175 miliar. Selain penjualan, Javaplant juga tengah mengincar Taiwan dan Filipina untuk membuka pasar baru.
“Kami yakin dengan bermodalkan keunggulan yang ada disertai dengan agresivitas di semua lini, posisileader bakal tetap tergenggam hingga akhir tahun 2013 ini,” pungkas Junius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

alhamdulillah, semoga bisa istiqomah dan bermanfaat